Tidak bisa dibantahkan lagi bahwa virus corona sudah sangat mengerikan penyebarannya, mungkin sudah bisa dikatakan sebagai pandemik. Penyebarannya yang exponensial dan membunuh dalam senyap membuat semua warga planet bumi panik dan waspada mengantisipasinya, mulai dari kebijakan karantina wilayah atau bekennya disebut “lockdown” hingga rapid test untuk sebanyak-banyaknya suspect dilakukan berbagai negara untuk mengeliminir penyebaran virus ini.
Virus ini juga tidak hanya membawa masalah pada sisi kesehatan dan sosial saja, namun pada sendi-sendi ekonomi yang juga turut dirusak dan merasakan dampak, tidak kurang harga saham diberbagai belahan dunia anjok saat ini, nilai tukar mata uang ikut-ikutan runtuh, rupiah saja sudah menyentuh Rp. 16.000an per dolar US, bisnis sektor pariwisata dan transportasi paling merasakan kenyerian virus ini serta perlahan sektor UMKM ikut “memble” dibuatnya. Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bahkan telah mengklaim bahwa UMKM Bangka Belitung mengalami penurunan omset 70% dan senada dengan Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Bangka Belitung, Dr. Reniati juga mengungkapkan bahwa sektor UMKM mengalami penurunan penghasilan antara 50 hingga 80% akibat wabah ini, padahal hingga tanggal 30 Maret 2020, kasus positif corona di Bangka Belitung masih 0.
Menindaklanjuti data dan fakta tersebut diatas, Bidang Pengembangan Sumber Daya, Fasilitasi dan Akses Industri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melakukan survey terkait dampak yang terjadi pada pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan melakukan penyebaran kuesioner pada tanggal 24 - 26 Maret 2020.
Kuesioner menanyakan responden / IKM Bangka Belitung terkait ada tidak dampak wabah corona bagi IKM, besaran penurunan nilai penjualan/omset, penurunan kapasitas produksi dan apakah ada kenaikan bahan baku produksi saat ini dipasaran akibat corona.
Batasan survey ini pada pelaku IKM di Bangka Belitung baik itu IKM pangan, sandang, kima & bahan bangunan dan kerajinan serta Survey ini dilakukan dengan metode simple random sampling artinya setiap pelaku IKM Bangka Belitung punya kesempatan yang sama untuk terpilih sebagai responden dan margin error nya 6% dengan mengambil total responden sebanyak 269 pelaku IKM.
Hasil survey menunjukan sebaran pelaku IKM pangan yang disurvey mencapai 89%, dan kerajinan 9 %
Dengan Pelaku IKM terbanyak sebagai responden ada dari kabupaten Bangka Tengah 75 IKM, Kabupaten Belitung 57 IKM, Kota Pangkalpinnag 48 IKM, Kabupaten Bangka 39 IKM, Kabupaten Belitung Timur 20 IKM, Kabupaten Bangka Selatan 17 IKM dan Kabupaten Bangka Barat sebanyak 13 IKM
Pertanyaan terpenting dari survey ini terkait apakah IKM Bangka Belitung terdampak akibat wabah Virus Corona yang melanda, jawabannya ada 81% IKM menyatakan bahwa usaha mereka memang terdampak.
Ketika ditanyakan aspek yang paling terdampak dalam usaha, maka jawaban pelaku IKM mayoritas terkait penjualan dan pemasaran sebanyak 84%, diikuti oleh kelangkaan bahan baku sebanyak 7%, tenaga kerja 5%. Bagi pelaku IKM, sejak menjangkitnya wabah corona dinusantara, omset penjualan mereka menurun drastis.
Penurunan omset penjualan dirasakan signifikan bagi IKM, penurunan omset mayoritas berkisar antara 30 hingga 70% bahkan banyak juga yang mengalami penurunan penjualan lebih dari 70%, artinya penurunan penjualan akibat dampak corona memang sangat dikeluhkan bagi para IKM.
Penurunan omset membuat pelaku IKM juga terpaksa untuk menurunkan kapasitas produksinya dari kondisi normal. Penurunan kapasitas produk terbanyak dilakukan oleh pelaku IKM hingga mencapai 30 – 50 % dari biasanya.
Sementara itu, wabah corona juga berimbas pada kenaikan harga bahan baku dan bahan penolong bagi IKM, besaran kenaikan bervariasi tergantung wilayah dan jenis usahanya, kenaikan harga bahan baku mayoritas dirasakan pada kisaran 10 – 30 % dari harga normal.
Namun yang menjadi anomali adalah ketika ditanyakan bantuan apa yang dibutuhkan oleh pelaku IKM dari pemerintah untuk recovery terhadap dampak Corona ini, mayoritas responden menjawab bantuan modal lebih mereka butuhkan.
Hipotesa awal yang meng-claim bahwa pelaku IKM butuh bantuan pemasaran/penjualan dan penundaan pembayaran kredit ternyata terbantahkan. IKM mayoritas lebih memilih untuk minta modal dari pada mendapat fasilitasi pemasaran dan penjualan untuk mengantisipasi dampak corona, ini mungkin disebabkan karena minset mayoritas pelaku IKM yang masih belum berjiwa wirausaha dan masih cenderung memiliki mindset “dak kawah nyusah”
Dari analisa secara statistik, korelasi antara penurunan penjualan dengan dampak corena yang sedang terjadi, penurunan kapasitas produksi dan kenaikan harga adalah sebagai berikut :
Dari tabel Pearson Correlation terlihat bahwa semua variabel saling terkait satu sama lain dengan hubungan keterkaitan penurunan omset/penjualan dengan dampak korona sebesar 0,762 sig .000 artinya keterkaitannya cukup kuat, sedangkan penurunan omset/penjualan dengan penurunan kapasitas produksi memiliki hubungan yang juga cukup kuat yaitu sebesar 0,591 sig .000. dan penurunan omset/penjualan dengan kenaikan bahan baku memiliki hubungan yang berkoresional lemah sebesar 0,341 sig .000
Artinya hal ini dapat diartikan bahwa kesemua variabel memang saling terikat satu sama lain namun memang penunuran penjualan / omset memiliki pengaruh yang besar terhadap dampak akibat merebaknya virus corona yang terjadi di nusantara dan penurunan kapasitas produksi yang dilakukan oleh pelaku IKM disaat krisis.
Jika ditanyakan seberapa besar kontribusi variabel independent yaitu dampak corona, kenaikan bahan baku dan penurunan kapasitas produksi terhadap variabel dependentnya (Penurunan Omset / Penjualan), maka tergambar sebagai berikut :
Dari gambar diatas dapat disimpulkan bahwa dampak virus corona berkontribusi terhadap penurunan omset/penjualan sebesar 0,62 satuan , sedangkan penurunan kapasitas produksi berkontribusi sebesar 0.554 satuan terhadap penurunan omset/penjualan dan kenaikan bahan baku berkontribusi -0,81 satuan terhadap penurunan omset/penjualan pelaku IKM, artinya kenaikan bahan baku tidak signifikan berpengaruh terhadap penurunan omset/penjualan pelaku IKM, sedangka nilai 0,273 adalah konstanta dimana mendefinisikan bahwa ada variabel lain sebanyak 0,272 satuan yang belum terdefinisi dalam formula ini terkait dengan penurunan omset/penjualan pelaku IKM.
Dengan rumus maka dapat digambarkan :
Penunuran Omset Pelaku IKM = 0,620 Dampak Corona + 0,554 Penurunan Kapasitas Produksi – 0,81 Kenaikan Bahan Baku + 0,273
Dari angka-angka diatas dapat disimpulkan bahwa penurunan omset/penjualan para pelaku IKM di Bangka Belitung memang sangat dipengaruih oleh dampak wabah corona yang sedang menjangkit dibumi nusantara, meskipun untuk Bangka Belitung kasus positif corona masih 0 hingga 30 Maret 2020 (tulisan ini dibuat) dan penurunan omset penjualan juga bisa diartikan sebagai sebab menurunnya kapasitas produksi dari pelaku IKM.
Presiden Joko Widodo mengungkapkan releasenya bahwa UMKM di Indonesia adalah sektor yang sangat rentan terhadap terpaan badai corona, sehingag dirasa perlu bagi pemerintah pusat untuk memberikan insentif berupa suntikan relaksasi bagi UMKM dalam mendukung upaya agar UMKM dapat survive saat ini.
Pertanyaannya adalah bagaimana dengan Bangka Belitung yang penurunan Omsetnya sudah berkurang antara 30 hingga 70%, sampai kapan mereka akan bertahan, belum lagi kendala mindset para pelaku IKM yang dirasakan masih belum siap untuk bersaing dilevel yang tinggi.
Pemerintah daerah diharapkan menyiapkan langkah-langkah strategis yang terukur secara cepat menyikapi hal ini baik untuk kebijakan short-term maupun long-term nya.