BERFIKIR SISTEM

Pernahkah anda menyadari bahwa segala sesuatu yang ada didunia ini terjadi tidak dengan kebetulan, setiap detail dari alam semesta merupakan sistem yang saling terkait dan tidak terpisahkan, jika sistem tersebut diganggu, tentu akan ada konsekuensinya baik itu hal yang baik maupun sebaliknya.

 

Banyak sekali orang berkata, saat ini saya sedang punya masalah A, masalah B dan seterusnya, mereka hanya melihat masalah dari satu sisi saja yang merupakan akibat dari pola tertentu yang terjadi pada dirinya, tanpa melihat dan menghitung bagaimana proses terjadinya masalah tersebut, apa yang sesungguhnya sudah dia lakukan sehingga memberikan kontribusi terhadap terjadinya masalah tersebut.

 

Dalam teknik industri, masalah merupakan sesuatu “gap” atau “selisih antara harapan yang diinginkan bakal terjadi dengan nilai / keadaan real yang terjadi sesungguhnya, kondisi real yang terjadi jauh dibawah harapan itu adalah sebenarnya yang disebut  “masalah / problem”. Jika kondisi real berada diatas nilai harapan yang kita inginkan maka itu sama sekali bukan masalah namun hal yang kita harapkan menjadi kenyataan.

 

Dengan kaitan diatas saya ingin mengajak pembaca untuk tidak hanya berfikir secara parsial atau melihat sesuatu dari sisi-sisi tertentu saja namun lebih luas untuk melihat fenomena dalam suatu bentuk tertentu yang kita namakan “berfikir sistem”.

 

Berfikir sistem adalah proses untuk memahami fenomena yang tidak hanya memandang dari satu atau dua sisi saja namun berfikir sistem berarti memahami bahwa suatu fenomena akan dipengaruhi oleh banyak kompenen-kompenen yang melibatkannya. Untuk itu sebelumnya kita perlu tahu dulu apa karakteristik dari suatu sistem,

 

sistem sejatinya memiliki karakteristik sebagai berikut :

  1. Memiliki kompenen-kompenen
  2. Kompenen merupakan sesuatu yang di-define dalam sebuah batasan tertentu
  3. Kompenen bekerja dengan membentuk pola –pola tertentu
  4. Pola yang terbentuk menghasilkan karakteristik yang berbeda dari gabungan sederhana komponennya
  5. Sistem memiliki tujuan, pola interkasi kompenen dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut

Konteks adalah kumpulan dari data/fakta dalam suatu lingkungan yang dapat mempengaruhi situasi baik itu politik, sosial, ekonomi, sejarah, psikologi, institusi atau apapun yang terbentuk dalam suatu pola tertentu tentang bagaimana kita bisa memahami situasi tersebut.

 

Sistem terkadang tidak dapat terlihat perilakunya sebelum “diganggu”, kita tidak akan pernah tahu bagaimana respon teman kita saat dia marah jika kita tidak mengganggunya untuk marah. Perilkau respon teman kita akan sangat membantu kita untuk memahami dia.

 

Namun bagaimana kalau kita ganggu dia untuk marah, namun, teman kita tersebut tidak merespon, ini akan menjadi sangat berbahaya karena kita tidak tahu batasannya,  jadi apakah nanti malam saat kita sendirian ada yang menikam kita dari belakang, kita tidak akan pernah bisa memastikannya.

 

Gangguan biasanya berasal dari sekitar sistem yang kita analisa, karena kondisi konteks merupakan input-an dari sistem terbuka maka sebuah sistem pasti berperilaku tertentu akibat input dari lingkungannya karena perilaku adalah apa yang dia lakukan, bukan apa yang dia pikirkan, dia rasakan atau apa yang dia percayai. Dengan memahami konteksnya kita bisa lebih dalam memahami masalah dan itu artinya solusi yang ditelurkan akan semakian tajam.

 

Dalam manajemen kualitas kita dingatkan bahwa dalam setiap masalah, jangan pertama kali menyalahkan orang lain karena orang dapat berbuat salah karena sistem yang kita rancang membiarkan atau memberi kesempatan bagi orang untuk berbuat kesalahan. Perhatikan konteksnya, kadang disitulah letak solusi terbaik dari permasalahan yang kita hadapi.

 

Contoh sederhana saja dan ini fakta, misalnya saat sebelum covid-19, orang cenderung enggan untuk melakukan meeting online dengan banyak alas an misalnya faktor kenyamanan, emosi yang ditimbulkan akibat interaksi langsung dan lain sebagainya, namun kini…. Meeting secara online sudah menjadi habit kita semua…, why ?

 

Apa hal ini terjadi seketika begitu saja ?, tidak mungkin tentunya, ada gangguan dari sistem pola yang lama sehingga perilaku sistemnya jadi berubah saat itu, let say.. bentuk gangguan itu adalah dominan disebabkan karena pandemi covid-19 yang memaksa orang-orang untuk migrasi secara cepat ke habit yang baru dari konvensional ke digital. Suatu kondisi dimana kebiasaan lama seperti interaksi massif bertemu secara fisik sudah tidak relevan lagi dilakukan sehingga orang berfikir untuk mencari solusi dalam menyikapi keadaan yang terjadi dengan tetap berinteraksi namun tidak secara fisik lagi melainkan secara online dengan dukungan aplikasi.

 

Untuk kasus lain, Kesejahteraan rakyat merupakan amanat undang-undang, menciptaan kesejahteraan rakyat salah satunya adalah memastikan stabilitas harga kebutuhan pokok  bagi masyarakat sehingga daya beli masyarakat akan hal tersebut tetap terjaga. saat ini sidak pasar terus menerus dilakukan oleh seluruh  instansi terkait di Indonesia untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok masyarakat menghadapi bulan puasa dan jelang lebaran, mulai dari “sounding” Menteri Perdagangan Republik Indonesia tentang kebijakan Harga Ecrean Tertinggi (HET) untuk harga jual gula pasir, daging beku dan minyak goreng, hingga pengecekan langsung ke gudang-gudang logistik pemerintah serta inspeksi langsung ke distributor-dsitributor sampai ke penjual dipasar-pasar tradisional, efektif-kah dari sisi berfikir sistem?, mungkin ya mungkin juga tidak,  satu pola usaha dapat dikatakan efektif jika tujuan dari usaha tersebut tercapai, untuk kasus ini tujuannya adalah stabilitas harga dapat terjaga secara kuntinu dan simultan everyday, everytime.

 

Dari kerangga berfikir sistem, banyak kompenen – kompenen yang sebenanya dapat diganggu untuk menciptakan stabilitas harga kebutuhan pokok yang baik seperti pola distribusi logistik, stakeholder yang terlibat, infrastruktur, energi, data-data awal dan data pendukung, kartel yang bermain, faktor dari sisi supply, demand masyarakat, stock / cadangan, kebijakan pemerintah, waktu-waktu rawan stabilitas harga dan perilaku masyarakat itu sendiri. Dari menganalisa perilaku-perilaku input-an tersebut kita bisa lebih dalam memahami konteks dari sistem yang terjadi sesunguhnya sehingga sistem yang lebih baik untuk menjaga stabilitas  harga kebutuhan pokok untuk menjaga daya beli masyarakat dapat tercipta dengan melibatkan dan memobilisasi seluruh pemangku kepentingan yang digerakkan secara integrated dan systemize untuk tujuan tersebut.

 

Akhirnya berfikir sistem tidak hanya solving problem dengan melakukan tindakan represif terhadap penyimpangan-penyimpangan yang terjadi tapi lebih kepada action yang preventif yang dikerjakan secara integrated dan terukur agar tujuan atau impact yang diinginkan dari menciptakan suatu pola tersebut dapat terwujud.

Penulis: 
Selani
Sumber: 
SELANI - Dinas Perindag

Artikel

09/12/2021 | SELANI - Dinas Perindag
08/12/2021 | Qudba Farid, ST , Disperindag Prov. Kep. Bangka Belitung