Tim Komite Penetapan Harga Lada, bahas harga lada

 

Pangkalpinang-Tim Komite Penetapan Harga Lada (KPHL) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), mulai membahas penentuan harga lada Babel, Senin Siang (31/8) di ruang Serba Guna Kantor Pemasaran Bersama (KPB) Lada Provinsi Babel, di Air Itam Pangkalpinang.

Pembahasan penentuan harga lada Babel di bahas oleh Tim KPHL berlangsung sangat alot karena banyak faktor yang menentukan harga lada Babel.

Pada saat membahas harga Lada, Direktur BUMD Bumi Bangka Belitung Sejahtera (B3S) Prof. Saparuddin menegaskan bahwa tim Tim Komite Penetapan Harga Lada (KPHL) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk saat ini belum bisa menentukan harga lada Babel di tingkat petani karena lada bukan barang khusus  beda dengan sawit karena sawit termasuk produk khusus jadi harus ada komite.

Menurutnya untuk saat ini tim bisa membuat harga di tingkat petani untuk kepentingan acuan harga bursa saja, dimana di dalam harga acuan harus ada harga untuk pembelian di tingkat petani dan untuk acuan sendiri harus ada beberapa yang sudah di petakan diantaranya harga perolehan dari ditingkat petani, kemudian harga pasar dari instasi pemerintah yang setiap hari di cek ke petani  lada, pengepul  dan gudang,

“yang lainya itu adalah harga yang ada di IPC. exp : kondisi hari ini IPC lada MWP USD 4438/Matric ton. harga di IPC adalah harga untuk lada yang belum ada Gradenya (Non Grade), di dalam IPC terdapat beberapa lada lainnya yaitu Kuching asta. Kuching Asta menjadi acuan untuk standar ASTA,” katanya.

Sementara itu, Deki Susanto General Manager Kantor Pemasaran Bersama (KPB) Lada Provinsi Babel menjelaskan untuk menentukan harga lada Babel, perlu ada acuan harga lada yang pasti, baik di tingkat pembeli, di tingkat kualitas MWP 1 dan kualitas MWP 2. Belum ditambah lagi komponen lainya yaitu harga Pokok Produksi Petani, Kualitas dan Mutu Lada (IG), Kurs dolar, Stock, dan Kondisi musim panen Negara Produsen lada tersebut.

Oleh sebab itu dirinya menyarankan perlu adanya pembahasan secara serius megenai komponen-komponen apa saja yang mempengaruhi harga lada Bangka Belitung.

“harga MWP 1 dan MWP 2 yang akan di perdagangkan di pasar fisik, masuk dalam biaya resi gudang, asuransi, fee pusrek, sortir, dan packing,” pungkasnya.

Ditambahkan Herman Tjhia selaku anggota KPHL, bahwa harga lada yang terbentuk di masyarakat selama ini bukan dari IPC, harga di masyarakat murni dari suplai demand dari penjual dan pembeli, harga di IPC itu adalah harga yang dilaporkan masing-masing negara. “ harga lada MWP kalo di industry selalu dipertimbangkan lebih mahal dibandingkan harga lada Vietnam sampai dengan 10-15%. Dan juga harus mesti ada pengecekan untuk Pajak pada saat transaksi pasar fisik,” tambahnya. (mislam)

Sumber: 
Dinas Perindag
Penulis: 
Mislam
Fotografer: 
mislam
Editor: 
mislam
Bidang Informasi: 
Perindag