MENUJU BABEL SENTRA GARAM

MENUJU BABEL SENTRA GARAM

Oleh: Hadriansyah Putera, SE

Statistisi Penyelia

Indonesia sebagai negara maritim dengan wilayah yang sebagian besar merupakan lautan yang mempunyai banyak potensi ekonomi yang bersumber dari kekayaan laut, salah satunya adalah garam. Garam merupakan salah satu komoditi strategi sebagai bahan pangan manusia dan bahan baku kegiatan industri. Belum adanya industri garam yang digarap secara berkelanjutan untuk mengantisipasi kebutuhan masyarakat membuat hal yang dilematis, yang menyebabkan hingga saat ini pemerintah masih impor garam, terutama dari negara Australia.

Garam itu asin ....karena garam yang asin itu bisa menjadikan makanan menjadi “berasa, bisa dibayangkan bagaimana rasanya makanan atau lauk pauk, atau bahkan sayur yang dimasak tanpa dibumbui dengan garam?...... hambar...begitu juga dengan nasib para pelaku usaha yang sangat menggantungkan usahanya dengan garam tersebut, seperti contoh industri pengolahan makanan, ikan asin, pabrik es dan lain - lain, bisakah kita bayangkan keberlangsungan usaha tersebut tanpa ketersediaan garam ?.

Garam adalah suatu bahan kimia yang penting dan murah. Pemakaiannya terutama untuk bahan pangan dan industri. Dalam industri, garam merupakan bahan baku untuk pembuatan bahan kimia, turunannya dapat dipakai sebagai bahan dasar atau bahan penolong pada industri lain. Pembuatan garam dapat dilakukan dengan beberapa kategori berdasarkan perbedaan kandungan NaCl nya sebagai unsur utama garam. Jenis garam dapat dibagi dalam beberapa katagori seperti: katagori baik sekali, baik dan sedang. Dikatakan berkisar  baik sekali jika mengandung kadar NaCl  > 95 %, baik kadar NaCl 90-95 %, dan sedang dengan kadar NaCl antara 80-90 % tetapi yang diutamakan adalah kandungan garamnya diatas 95 %. Biasanya garam konsumsi memiliki NaCl minimal 94 % dan harus memenuhi persyaratan kualitas garam, Sedangkan garam industiri memiliki NaCl minimal 97 %. Khusus untuk industri pangan, kadar Ca dan Mg < 600 ppm.

Sebagai bagian dari negara maritim terbesar didunia dan terletak di garis khatulistiwa,  Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki total luas wilayah daratan dan lautan mencapai 81.725,06 km². Rasio perbandingannya adalah luas daratan lebih kurang 16.424,06 km2 atau 20,10 persen dari total wilayah dan luas laut kurang lebih 65.301 km² atau 79.90 persen dari total wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Dengan luas lautan yang mendekati hampir 80 persen tersebut, idealnya Prov. Kep. Bangka Belitung memiliki potensi sebagai daerah penghasil garam, baik garam untuk kebutuhan konsumsi maupun industri.

Berdasarkan data hasil Susenas bulan September 2017, rata-rata konsumsi komoditi makanan per kapita sebulan dirinci menurut beberapa komoditi. Banyaknya konsumsi perkapita/bulan untuk komoditi garam sebesar 99,22 gram, jika dikonversikan dalam kilogram sekitar  0,10 kg perkapita/bulan. Dengan proyeksi jumlah penduduk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tahun 2019 sebesar (1.488.792) jiwa, maka konsumsi garam Provinsi Kep. Bangka Belitung sebesar 147.718 kg atau 147,72 ton perbulan, jika dikalkulasikan dalam satu tahun sekitar 1.773 ton. Jumlah ini belum termasuk kebutuhan garam industri di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang didapat dari informasi distributor garam hampir setiap bulannya sejumlah 390 ton atau dikalkulasikan dalam setahun sekitar mencapai 4.680 ton. Jadi perkiraan  kebutuhan garam konsumsi dan garam industri di Bangka Belitung berkisar  6.452,62 ton per tahun.

Kebutuhan garam industri semakin tahun akan bertambah disebabkan oleh pertumbuhan Industri Mikro Kecil (IMK) dan Industri Besar Sedang (IBS). Pada tahun 2018 pertumbuhan produksi Industri Mikro Kecil (IMK) q-to-q triwulan IV di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung naik sebesar 2.78 persen terhadap  terhadap triwulan III tahun 2018, sementara untuk y-on-y mengalami peningkatan yang cukup signifikan yaitu sebesar 8,77 persen (BRS BPS Provinsi Kep. Bangka Belitung). Dengan kata lain, meningkatnya kondisi industri manufaktur pengguna garam didalam negeri dan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung akan turut serta dalam meningkatkan kebutuhan garam industri.

 Pada kenyataannya, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung  adalah salah satu provinsi yang hampir 80 persen barang kebutuhan pokok masyarakatnya didatangkan dari luar provinsi, termasuk pada komoditi garam. Berdasarkan pola distribusi dari sisi suplay, total garam yang dijual oleh pedagang 100 % berasal dari provinsi lain. Berdasarkan informasi dari distributor yang didapat, untuk tahun 2018 impor garam yang dilakukan pedagang di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah sebesar 6.452,62 ton. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengalami defisit pada neraca perdagangan antar wilayah untuk komoditi garam. Defisit yang terjadi adalah sebesar 6.452,62 ton yang berasal dari selisih antara jumlah garam yang diimpor yaitu 6.452,62 ton dengan jumlah garam yang di ekspor yaitu 0, artinya  tidak ada garam yang diekspor antar wilayah.

Mendasarkan pada sejarah, dahulu di Pulau Bangka pernah memiliki gudang garam yang dapat menampung produksi garam dari hasil produksi masyarakat yang terletak di kawasan Pantai Tanjung Langka Kabupaten Bangka Tengah yang dikenal dengan sebutan “Sumur Tujuh”, dengan produksinya sekitar 234 ton per tahun, yang hasilnya dijadikan sebagai sumber yodium untuk bumbu bahan masakan, namun sayangnya aktivitas produksi garam di lokasi itu tidak ada lagi. Memang angka tersebut masih kecil jika dibandingkan dengan asumsi kebutuhan saat ini yang mencapai 147,72 ton perbulan. Namun artinya, provinsi kita pernah memproduksi garam tersebut, namun bukan sebagai sentra produksi garam, akan tetapi merupakan daerah potensial sebagai sentra produksi garam, jika dikelola secara berkelanjutan.

Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung  Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah  (RTRW) Tahun 2014-2034 diantara wilayah yang ditetapkan sebagai kawasan strategis dari sudut kepentingan ekonomi diantaranya meliputi : Kawasan Minapolitan Tukak Sadai dan Lepar Pongok di Kabupaten Bangka Selatan, Kawasan Minapolitan Selat Nasik di Kabupaten Belitung dan Kawasan Industri Perikanan Tanjung Binga di Kabupaten Belitung serta Kawasan Pelabuhan dan Industri lainnya.

Adapun pengertian kawasan minapolitan adalah suatu bagian wilayah yang mempunyai fungsi utama ekonomi yang terdiri dari sentra produksi, pengolahan, pemasaran komoditas perikanan, pelayanan jasa, dan/atau kegiatan pendukung lainnya, sehingga untuk mensupport kawasan tersebut agar sejalan dengan yang ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Pemerintah Provinsi Kep. Bangka Belitung harus dapat menggali potensi sektor garam yang ada. Potensi ini juga dapat dilihat berdasarkan data (BRS BPS Provinsi Kep. Bangka Belitung) yang menyatakan bahwa distribusi terbesar terhadap struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan pertumbuhan ekonomi menurut lapangan usaha di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2018 lalu, yaitu industri pengolahan sebesar (20,64 persen).

Dengan peran bahan baku garam sebagai penopang industri pengolahan tersebut, diharapkan nantinya Pemerintah Provinsi Kep. Bangka Belitung dapat melakukan fasilitasi dan pembangunan industri garam, sehingga kedepannya dapat memenuhi kebutuhan garam bagi masyarakat dan pelaku industri pengguna garam serta  akhirnya diharapkan dapat mendongkrak laju pertumbuhan industri di Provinsi Kep. Bangka Belitung ini.

Penulis: 
Hadriansyah
Sumber: 
Perindag

Artikel

22/12/2016 | Wawan Setiawan, S.Si - Pranata Komputer Pertama Pada BKD Pro
21/12/2016 | Wawan Setiawan, S.Si - Pranata Komputer Pertama pada BKD Pro
28/11/2016 | Azami Anwar, S.Sos., M.Si - Kabid Data dan Informasi Kepegaw
31/07/2018 | Dudi
16/11/2015 | Mervpolis