#DIRUMAHAJA Untuk Masa Yang Baru

Tidak dapat dipungkiri saat ini bahwa virus corona merupakan sebuah ancaman serius diplanet bumi, dimulai dari Wuhan lalu dengan sangat cepat menyebar keseluruh dunia dan terus menggaungkan ketakutan dan rasa cemas bagi kita semua, kerena kita hidup disebuah planet bumi yang sama

Virus ini datang tanpa diundang, mungkin pulangnya juga tanpa permisi dan pasti kita tidak ingin mengantarnya bukan ?...., kengerian kita terhadap virus ini adalah dia yang membunuh dan bisa tumbuh dalam senyap, berkembang secara exponensial bukan dari 2 ke 4 terus ke 6 dan seterusnya, tapi berkembang dari 2 ke 4 terus ke 8, 16, 32, 64, 124 dan seterusnya…

Dan pertumbuhannya akan sangat mungkin menjadi tidak terkendali jika tidak ditangani secara serius oleh pemerintah disuatu negara dengan tingkat penanganan kesehatan yang buruk.

Bagi generasi millennial dan generasi “X” yang dominan menghuni planet ini serta sebagian kecilnya adalah generasi "Z", mungkin saja ini merupakan krisis terburuk yang pernah dialami. Sebab selain krisis ini begitu menakutkan, krisis kali ini juga terus menerus disounding dan diamplifikasi oleh media baik itu online maupun massa ditambah dengan riuh ricuhnya “hoax” yang tambah memperburuk suasana, tapi nasi sudah jadi bubur dan semua sudah terjadi, kita tidak mungkin memutar waktu untuk membuatnya tidak terjadi bukan?… yang paling mungkin adalah kita hanya bisa berupaya menahan laju tumbuh penyebarannya agar tidak menyebar lebih luas lagi serta menyiasati untuk mengurangi dampak buruknya bagi kehidupan kita saat ini dan setelahnya.

Mulai dari diri sendiri dan keluarga dengan disiplin untuk menahan diri, disiplin cuci tangan pasca melakukan aktifitas, disiplin menjaga kesehatan dan kebersihan lalu disiplin untuk tidak keluar rumah jika tidak terlalu penting, menjaga jarak saat berinteraksi dan tidak nge-yel serta menganggap remeh adalah upaya yang dapat kita lakukan secara mandiri, walau kecil ini sudah sangat membantu untuk mengeliminir penyebaran virus ini.

Tapi saya percaya, cepat atau lambat badai virus ini pasti berlalu, kita kemungkinan belum akan punah karena virus ini, pengalaman menunjukan demikian sebut saja virus-virus berbahaya yang pernah menimbulkan ke-ngeri-an dibumi seperti Virus Ebola yang secara simultan terjadi di Sudan dan Kongo tahun 1976, yang terbesarnya di Afrika Barat tahun 2014, ada juga Virus SARS yang muncul 2002 di Guangdong, China yang kemudian menyebar kelebih 25 negera, lalu disusul Virus Mers yang mematikan, hadir di Arab Saudi tahun 2012.

 Setidaknya ada dua skenario dalam penghentian virus ini yakni ditemukannya vaksin penangkal virus ini, sehingga dengan vaksin tersebut sipenderita akan sembuh atau virus corona ini melemah dengan sendirinya dan imun tubuh kita sudah menjadi kebal menghadapinya, seperti H1N1 yang sebelumnya begitu mematikan dan kini telah menjadi flu biasa. Tapi hal ini tentunya membutuhkan waktu, mungkin tidak sebentar, setidaknya butuh waktu bulanan untuk normal kembali atau yang paling buruk mungkin bisa tahunan.

Nah, pertanyaannya kemudian adalah apa yang terjadi saat kita berada dalam kondisi ini dan apa yang akan terjadi sesudahnya ?...

Faktanya virus ini memiliki efek domino yang besar, virus ini bisa mengundang krisis keuangan global karena banyak negara mulai menerapkan “lockdown” yang mengakibatkan roda ekonomi lesu karena distribusi segala hal terbatasi atau bahkan “off” untuk sementara, saham-saham dunia anjlok, nilai mata uang jatuh bahkan rupiah saat ini sempat menyentuh Rp. 16.000 per Dolar US, diperparah lagi harga minyak saat ini turun menjadi sekitar 30 US Dolar per barrel yang diakibatkan karena Arab Saudi ribut dengan Rusia, dan segala jenis usaha yang mengandalkan pada kerumunan massa pasti terkena imbas serius seperti pameran, pagelaran seni dan bisnis MICE akan hancur, pariwisata dan transportasi hingga banyak sektor lainnya akan lesu, usaha mikro kecil secara perlahan akan terkena dampak. PHK besar-besaran mungkin akan menjadi trend kedepan yang tak terhindarkan.

Selain efek domino yang signifikan, perubahan hidup yang baru juga akan menjadi kebiasaan kita hari-hari ini, sebut saja kerja dari rumah, belajar dari rumah dan berinteraksi secara sosial yang berjarak dengan istilah kerennya “social distancing” sudah mulai menjadi trend dimasa krisis wabah corona ini. Jika kita melakukan hal ini sesaat saja, let say 1 atau 2 hari… mungkin akan menjadi hal yang tidak terlalu masalah, namun bagaimana jika kita melakukan ini selama berbulan-bulan, logikanya adalah jika kita menikmati cara ini walau belum pernah kita lakukan sebelumnya, apalagi cara ini kita anggap lebih menguntungkan, mungkin kita akan terus melanjutkannya. Sesuatu yang tidak lazim saat normal, dan menjadi normal dilakukan saat krisis yang panjang akan menjadi “mainstream” saat segalanya kembali normal dan krisis sudah berlalu.

Positifnya adalah kita akan memulai kehidupan baru yang berbeda, dan mungkin lebih efisien serta dipaksa untuk migrasi ke era 4.0 lebih cepat namun demikian kita juga akan dipaksa untuk mengubah kebiasaan lama, ada banyak bisnis yang akan berubah polanya yang akan memiskinkan si”kaya” dan membuat si”pas-pasan” jadi lebih melarat serta akan memunculkan banyak orang kaya baru karena kebiasaan dan pola hidup masyarakat yang sudah berubah pasca krisis.

Krisis memang tidak menyenangkan namun setiap krisis juga selalu disertai peluang, sebuah pintu kesempatan bagi mereka yang jeli, tetap siap dan mau terus belajar. Tantangan kedepan memang tidak sama lagi, kedepan kita akan menghadapi sebuah era baru, era dimana masyarakat akan berubah, bisnis akan menemukan gayanya yang baru dan segalanya akan berubah menuju titik keseimbangan baru yang menjadi tempat bagi mereka yang siap dan menggilas mereka yang menyepelekan serta membuang mereka yang ketinggalan kereta.

Meski #dirumahaja setidaknya saya jadi lebih “aware” sama keluarga, menikmati rumah dan mengenal istilah MMT (Modern Money Theory) serta beberapa istilah lain yang sebelumnya tidak saya kenal, belajar sejarah bagaimana perang dagang China dan Amerika dimulai dan bagaiana trend kedepan pertempuran mereka bagi Indonesia serta lebih berkesempatan untuk mengasah diri.

Meski dirumah, tetaplah untuk belajar, tetap produktif dan terus semangat agar kita selalu siap menghadapi apapun yang terjadi setelah ini dan mari kita berdoa agar badai ini segera pergi.

Penulis: 
SELANI
Sumber: 
SELANI

Artikel

22/12/2016 | Wawan Setiawan, S.Si - Pranata Komputer Pertama Pada BKD Pro
21/12/2016 | Wawan Setiawan, S.Si - Pranata Komputer Pertama pada BKD Pro
28/11/2016 | Azami Anwar, S.Sos., M.Si - Kabid Data dan Informasi Kepegaw
27/01/2017 | Muhammad Erisco Nurrahman