ANTARA SURVEYOR DAN EKSPOR

ANTARA SURVEYOR DAN EKSPOR

Menjadi catatan tersendiri dalam kancah ekspor pertimahan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Bagaimana tidak, sedikit saja terjadi perubahan regulasi terkait surveyor, ekspor timah yang selama ini selalu berperan dominan dalam menggenjot pendapatan dari sisi ekspor, ekspor timah yang selama ini menjadi primadona, ekspor timah yang senantiasa menjadi komoditi “kelas atas”, khusus di bulan November 2018, ternyata ekspor timah harus “turun pamor” dibandingkan dengan ekspor komoditas non timah.

Oleh: Hadriansyah Putera, SE

Statistisi Penyelia Dinas Perindag Prov. Kep. Babel

 

Di Indonesia, terdapat 2 (dua) lembaga surveyor yang merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang bertugas untuk melakukan verifikasi asal usul bijih timah sebelum diekspor yaitu PT. Superintending Company of Indonesia (persero) yang memfokuskan diri pada penyediaan layanan jasa inspeksi, pengujian, sertifikasi, konsultasi dalam kaitannya dengan ekspor timah, atau lebih populer disingkat SUCOFINDO, dan PT Surveyor Indonesia yang bergerak dibidang survei, inspeksi, dan konsultasi. PT Surveyor Indonesia berperan dari sisi penguatan institusi dan kelembagaan, yang ruang lingkup pekerjaannya adalah verifikasi, inspeksi, konsultasi, survei dibidang lingkungan, Pengawasan ekspor dan impor untuk perlindungan kualitas produk dalam negeri, Perlindungan konsumen, Peningkatan daya saing produk dalam negeri diberbagai institusi dan kelembagaan (Perindustrian, Perdagangan, Obat dan Makanan serta investasi dan kerjasama luar negeri).

Berkaitan dengan hal tersebut, peranan surveyor amatlah vital dan sangat berpengaruh terhadap laju ekspor di daerah, khususnya ekspor timah yang merupakan sektor andalan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Turunnya kualitas pengawasan surveyor akan menyebabkan lemahnya pengawasan atas asal usul timah yang akan diekspor.

Umumnya para eksportir timah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menggunakan surveyor dari PT. SI (Surveyor Indonesia) untuk menjamin legalitas asal usul timahnya sebagai salah satu syarat ekspor, dengan mengeluarkan sertifikat berupa Surat Keterangan Asal Bijih Timah (SKA BT). Namun, dengan adanya Surat Edaran Bersama (SEB) antara Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) dan Indonesia Clearing House (ICH)  nomor : 134/SEB/ICDX-ICH/X/2018 pada tanggal 16 Oktober 2018, kewenangan Surveyor Indonesia untuk melakukan verifikasi asal bijih timah sebelum ekspor dicabut sementara, dan seluruh Bukti Simpanan Timah (BST) atau timah murni batangan yang dimiliki oleh anggota penjual timah (eksportir) dalam tempat penyimpanan yang telah memiliki Surat Keterangan Asal Bijih Timah yang dikeluarkan oleh PT. SI tidak dapat ditransaksikan. Keluarnya Surat Edaran Bersama ini, mengindikasikan lemahnya pengawasan asal usul timah yang dilakukan oleh PT. SI, yang akhirnya berdampak pada terjadinya penurunan ekspor timah dibandingkan dengan ekspor komoditas non timah  pada bulan November 2018. Besarnya kontribusi ekspor komoditas non timah dibandingkan dengan ekspor timah ini, menjadi fenomena tersendiri dalam dunia ekspor di Bangka Belitung.

Penurunan ekspor timah dapat dilihat dari turunnya jumlah permohonan untuk penerbitan Surat Keterangan Asal (SKA/COO) pada komoditi timah. SKA ini digunakan oleh eksportir sebagai surat keterangan kebangsaan suatu barang yang disertakan pada saat barang tersebut memasuki wilayah negara tujuan ekspor tertentu, untuk menerangkan bahwa barang tersebut berasal dan diolah dari suatu negara. Pada periode bulan November 2018 Dinas Perindustrian dan Perdagangan  Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai Instansi Penerbit Surat Keterangan Asal (IPSKA) telah menerbitkan sebanyak 21 SKA komoditi timah  lebih kecil dari bulan sebelumnya (Oktober) sebanyak 112 SKA atau turun sebesar 81.25 persen. Penurunan penerbitan Surat Keterangan Asal (SKA) komoditi timah  tersebut adalah imbas dari terbitnya Surat Edaran Bersama terkait surveyor yang telah dijelaskan diatas, yang mengakibatkan nilai ekspor timah turun 66.56 persen, sedangkan nontimah naik 96.44 persen (y-on-y). Dibandingkan dengan bulan sebelumnya (m-to-m), nilai ekspor timah turun sebesar 48,25 persen (Berita Resmi Statistik BPS Prov. Kep. Bangka Belitung No. 5/01/19/Th,XVII, 2 Januari 2019).

Sehubungan dengan hal tersebut, agar ekspor timah tidak terganggu, sebaiknya dapat mengoptimalkan peran perusahaan surveyor lain, yakni Sucofindo, untuk memastikan keabsahan komoditas tambang demi kepentingan perdagangan khusunya ekspor. Selain itu, peran kredibilitas seorang suveyor dalam suatu perusahaan surveyor seperti PT. SI dan Sucofindo harus ditingkatkan, yang diukur dengan kepatuhan pada etika profesi dan kompetensi, agar dapat menjalankan tugasnya secara profesional dengan memperhatikan peraturan perundangan yang berlaku si sektor pertambangan dan perdagangan. Karena status PT. SI dan Sucofindo sebagai BUMN yang merupakan perpanjangan tangan pemerintah wajib dijaga kredibilitasnya agar jangan sampai masyarakat kehilangan kepercayaan pada pemerintah.

Penulis: 
Hadriansyah
Sumber: 
Disperindag

Artikel

22/12/2016 | Wawan Setiawan, S.Si - Pranata Komputer Pertama Pada BKD Pro
21/12/2016 | Wawan Setiawan, S.Si - Pranata Komputer Pertama pada BKD Pro
28/11/2016 | Azami Anwar, S.Sos., M.Si - Kabid Data dan Informasi Kepegaw
27/01/2017 | Muhammad Erisco Nurrahman